Welcome to Roskiman.com

Whatever good deeds you send forth is for your own souls (Al-Muzammil:20)

A Hadith on Fasting In Rejab

Imam al-Nawawi said:

“Neither prohibition nor praiseworthiness has been established for the month of Rajab in itself, HOWEVER,

(1) the principle concerning fasting is that it is praiseworthy in itself, and

(2) in the Sunan of Abu Dawud the Prophet  has made the fasting of the sacred months praiseworthy, and Rajab is one of them.”

A Hadith On Fasting in Rajab

  1. `Uthman ibn Hakim al-Ansari said: “I asked Sa`eed ibn Jubayr about fasting in Rajab, and we were then passing through the month of Rajab, whereupon he said: “I heard Ibn `Abbas saying: “The Messenger of Allah  used to observe fast so continuously that we thought he would not break it, and did not observe it so continuously that we thought he would not observe fast.” Muslim and Abu Dawud relate it in Kitab al-sawm, respectively in the chapter on fasting at times other than Ramadan, and in the chapter of fasting during Rajab.

Puasa Bulan Rejab Bid’aah?

Setiap kali tiba bulan Rejab, timbul isu yang sama puasa bulan Rejab itu Bid’ah. Tiba bulan Syaaban, menghidupkan malam Nisfu Syaaban Bid’ah, mari bulan Ramadan isu 8 atau 20 rakaat yang sunnah.

Di bawah ini saya copy paste dari blog Kiyai Idrus Ramli, takut-takut linknya tidak dapat diakses:

Sumber: Blog Kiyai Muhammad Idrus Ramli

Bulan ini kita telah memasuki dalam bulan Rajab. Tidak sedikit kaum Muslimin di Indonesia, yang mentradisikan puasa Sunnah ketika memasuki bulan-bulan mulia seperti bulan Rajab. Persoalannya, setelah merebaknya aliran Salafi-Wahabi di Indonesia, beragam tradisi ibadah dan keagamaan yang telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara, seperti puasa Sunnah di bulan Rajab selalu dipersoalkan oleh mereka dengan alasan bid’ah, haditsnya palsu dan alasan-alasan lainnya. Seakan-akan mereka ingin menghalangi umat Islam dari mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah puasa. Oleh karena itu tulisan ini, berupaya menjernihkan hukum puasa Rajab berdasarkan pandangan para ulama yang otoritatif.

Hukum Puasa Rajab

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa Rajab.

Pertama, mayoritas ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah selama 30 hari. Pendapat ini juga menjadi qaul dalam madzhab Hanbali.

Ilmu Tasawuf itu Roh Islam

Dalam satu hadith yang agak panjang yang diriwayatkan daripada Sayyidina Umar ibn al-Khattab RA menceritakan bagaimana pada suatu hari ketika Baginda SAW sedang duduk bersama para Sahabat RAnhum, tiba-tiba datang seorang lelaki yang memakai baju serba putih, bersih dan tiada tanda kesan-kesan debu kerana musafir, masuk dan duduk mengadap Baginda SAW. Lelaki itu bertanyakan Baginda SAW berhubung dengan Islam, Iman, Ihsan, dan kiamat. Hadith ini amat terkenal dan dirakamkan dalam banyak kitab-kitab hadith termasuk Imam Nawawi RA menyebutnya dalam kitabnya yang terkenal “Hadith 40” Imam Nawawi.

Berbeza Pendapat Tanpa Perlu Berbalah

Setiap kita dibesarkan dalam suasana berbeda. Begitu juga dengan pendidikan yang kita lalui juga tidak sama antara satu sama lain. Memahami hakikat ini amat penting untuk kita dapat hidup aman damai, bersatu padu tanpa perlu bermusuhan dan bercakaran kerana disebabkan persekitaran kita dibesarkan, dan pendidikan yang kita lalui membuatkan kita mempunyai perspektif yang berbeda apabila menilai dan memberi pandangan terhadap setiap isu yang timbul. Ini benar untuk semua hal dalam kehidupan ini. Ini tidak bermakna kita menyokong faham “relativisima” atau nisbi yang beranggapan bahawa tiada kebenaran mutlak kerana semuanya bersifat relatif.

Al-Qur’an menyebut berhubung dengan perbezaan pendapat ini melalui Surah Hud 118-119, mafhumnya: “Jikalau Tuhanmumu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berikhtilaf (berselisih pendapat). Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka … .” Para ulama berbeda pandangan berhubung dengan tafsiran ayat ini adakah ia merujuk kepada perselisihan yang dimaksudkan itu dengan wujudnya agama Nasrani, Yahudi dan agama-agama lain di satu pihak dan Islam di satu pihak lain, di mana agama-agama lain itu digolongkan sebagai puak yang berselisih “mukhtalifin” manakala umat Islam termasuk dalam kalangan puak yang dirahmati Allah SWT, atau ia juga merujuk kepada perselisihan umum manusia … Read the rest “Berbeza Pendapat Tanpa Perlu Berbalah”

STAY AWAY FROM THE SUFIS

A friend of mine told me that she was advised to stay away from the Sufis. And this is not the first time I heard this kind of “wise” advice. In the first place who are the “Sufis” that she was advised to abstain?  True, there are false Sufis or “pseudo-Sufis” (as Tan Sri Prof. Syed Naquib al-Attas always terms them) out there that you must not get close to. But at the same time all the great Imams of Ahlul Sunnah wal Jamaah (Sunni) of the past are all Sufis: from Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Shafie, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Ghazali and the list goes on…may Allah have mercy on them all!

MAULIDUR RASUL DI MADINAH AL-NABAWI

Agak lama rasanya blog ini tidak dikemaskinikan. Terasa “blogging”, “facebooking” semacam membuang masa sahaja. Namun ramai juga sahabat yang menasihatkan agar jangan ditinggalkan langsung nanti facebook dan blog dipenuhi dengan penulisan yang “beracun” dan mengelirukan masyarakat.

Alhamdulillah, saya menyambut tahun 2015 ini  di Tanah Suci. Hari ini saya berada di Madinah al-Munawarrah dan turut “meraikan” Maulid al-Rasul SAW (walaupun pemerintah Saudi melarangnya kononnya Bid’ah”). Perbahasan boleh atau tidak menyambut Maulid al-Rasul ini tidak berkesudahan. Rencana oleh YM Ustaz Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin yang dimuatkan di laman web Mufti Wilayah amat baik untuk dibaca

Mengambil berkat hari kelahiran Baginda SAW ini, saya mulakan balik penulisan di laman ini yang sekian lama terhenti. Moga ada manfaatnya untuk diri saya sendiri dan pengunjungnya.

Moga-moga 2015 ini lebih memberi masa bagi memaknakan hidup mentaatiNya.

KHILAFIYYAH PERSOALAN DAN PENJELASAN

Ramai yang memuntahkan kembali hujah-hujah ulama-ulama pilihan mereka dalam membahaskan isu-isu khilafiyah seolah itu “penemuan” baharu baginya, walhal perkara tersebut sudah ratusan tahun dibahaskan. Nama lagi isu “khilafiyah”, sudah tentu ada perbezaan pendapat di kalangan ulama’. Jika sepakat, tidak dinamakan persoalan khilafiyah pula.

Apa sepatutnya sikap kita dalam persoalan sebegini? Ya, berlapang dada dan meraikan pendapat orang lain yang memilih untuk bersama para ulama B, dan tidak kelompok ulama A yang kita rasa lebih tepat.  Ianya bukan perkara munkar, lalu jangan bersungguh-sungguh menentangnya seolah ianya suatu perkara munkar yang wajib ditentang bermatian.

Baca buku al-Fadhil Ustaz Muhadir Hj Joll, Khilafiah: Persoalan dan Penjelasan di mana hampir 90% isu-isu yang timbul dalam masyarakat sudah dijawab beliau dengan tuntas berdasarkan kitab-kitab yang muktabar.

Selama membaca, moga kita tidak berbalah dan teguh bersatu.

Sidebar