Mafahim

Puasa Bulan Rejab Bid’aah?

Setiap kali tiba bulan Rejab, timbul isu yang sama puasa bulan Rejab itu Bid’ah. Tiba bulan Syaaban, menghidupkan malam Nisfu Syaaban Bid’ah, mari bulan Ramadan isu 8 atau 20 rakaat yang sunnah.

Di bawah ini saya copy paste dari blog Kiyai Idrus Ramli, takut-takut linknya tidak dapat diakses:

Sumber: Blog Kiyai Muhammad Idrus Ramli

Bulan ini kita telah memasuki dalam bulan Rajab. Tidak sedikit kaum Muslimin di Indonesia, yang mentradisikan puasa Sunnah ketika memasuki bulan-bulan mulia seperti bulan Rajab. Persoalannya, setelah merebaknya aliran Salafi-Wahabi di Indonesia, beragam tradisi ibadah dan keagamaan yang telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara, seperti puasa Sunnah di bulan Rajab selalu dipersoalkan oleh mereka dengan alasan bid’ah, haditsnya palsu dan alasan-alasan lainnya. Seakan-akan mereka ingin menghalangi umat Islam dari mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah puasa. Oleh karena itu tulisan ini, berupaya menjernihkan hukum puasa Rajab berdasarkan pandangan para ulama yang otoritatif.

Hukum Puasa Rajab

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa Rajab.

Pertama, mayoritas ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah selama 30 hari. Pendapat ini juga menjadi qaul dalam madzhab Hanbali.

MAULIDUR RASUL DI MADINAH AL-NABAWI

Agak lama rasanya blog ini tidak dikemaskinikan. Terasa “blogging”, “facebooking” semacam membuang masa sahaja. Namun ramai juga sahabat yang menasihatkan agar jangan ditinggalkan langsung nanti facebook dan blog dipenuhi dengan penulisan yang “beracun” dan mengelirukan masyarakat.

Alhamdulillah, saya menyambut tahun 2015 ini  di Tanah Suci. Hari ini saya berada di Madinah al-Munawarrah dan turut “meraikan” Maulid al-Rasul SAW (walaupun pemerintah Saudi melarangnya kononnya Bid’ah”). Perbahasan boleh atau tidak menyambut Maulid al-Rasul ini tidak berkesudahan. Rencana oleh YM Ustaz Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin yang dimuatkan di laman web Mufti Wilayah amat baik untuk dibaca

Mengambil berkat hari kelahiran Baginda SAW ini, saya mulakan balik penulisan di laman ini yang sekian lama terhenti. Moga ada manfaatnya untuk diri saya sendiri dan pengunjungnya.

Moga-moga 2015 ini lebih memberi masa bagi memaknakan hidup mentaatiNya.

SHEIKH AFIFI: THE ‘AMAL OF THE LIVING FOR THE DEAD

By Shaykh Dato’ Dr Muhammad Afifi al-Akiti*

Q. “I read in the Reliance of the Traveller (p. 928)”

[which is a complete manual of Islam consisting, in the main part of the book, a translation together with a useful explanation in English of a beginner’s level textbook on Shafi’i fiqh (but a post-Fard ‘Ayn text), the ‘Umdat al-Salik by Imam al-Naqib; while in the other parts of the book, there are various useful selections from medieval and also modern-but-reliable texts on a number of issues including the following mas’ala which past Muslims have accepted without question]

“that donating the reward of our worship to the dead is permissible. But where does it say this in a specific Shafiite fiqh reference?”

[Since the text that the Reliance refers to for this particular issue is a modern work called the Qada’ al-‘Ibadat written by a modern Shafi’i Mufti, which the questioner here, for reasons unknown to us, seems unwilling to accept the conclusions of this modern Shafi’i scholar.]

“Didn’t the Qur’an say: “And that man can have nothing but what he does”? Is there an ahl tafsir who says that one can donate the reward of our worship to the … Read the rest “SHEIKH AFIFI: THE ‘AMAL OF THE LIVING FOR THE DEAD”

Jalan Kerohanian Tuntut Perubahan Total

Q. Apakah Jalan Kerohanian Menuntut Perubahan Total?

A. Ya, benar. Jalan Kerohaniaan adalah jalan menuntut perubahan total dalam kehidupan seharian kita hari ini. Sebab itu pernah diungkapkan bahawa andaikata para Sahabat Baginda SAW r.anhum ajmain hidup di zaman ini, mereka akan mengatakan kita orang yang tidak beriman dan beramal dengan ajaran Islam, manakala kita pula menuduh mereka orang-orang yang kurang waras. Itu adalah realiti kehidupan majoriti kita hari ini apabila Islam hanyalah luaran semata-mata kerana dilahirkan Islam, tetapi hakikat dan roh Islam tiada dalam jiwa kita. Sebaliknya, penuh dengan segala perasaan keji (mazmumah) dan penyakit hati yang tidak perlulah kita senaraikan di sini. Sungguh jauh “Islam” kita hari ini dengan Islam yang hidup dan diamalkan oleh Baginda SAW dan para Sahabat di awal kedatangan Islam suatu ketika dahulu. Di awal Islam, Allah “hidup” dalam hati-hati mereka, namun hari ini “dunia” dan “penyakit hati” bersarang dalam hati-hati kita. Lalu jalan tasawuf ini mengajak kita kembali “menghidupkan” Allah dalam hati kita sepertimana ungkapan yang diberikan oleh tokoh tasawuf terkenal Imam al-Junayd al-Baghdadi “Allah “mematikan” kamu dari dirimu, dan “menghidupkan” kamu melaluiNya”.

Q.Apakah Perubahan Yang dituntut itu?

A, Perubahan yang dituntut bukan perubahan luaran atau zahir tetapi perubahan … Read the rest “Jalan Kerohanian Tuntut Perubahan Total”

WHY MUSLIMS FOLLOW MADHHAB?

by Nuh Ha Mim Keller 1995.

This essay developed from a lecture given in the United States, Canada, and England in 1994 and 1995. On each occasion, questions were taken, some of the most frequent of which have been answered in the subsequent chapters.

The work of the mujtahid Imams of Sacred Law, those who deduce shari‘a rulings from Qur’an and hadith, has been the object of my research for some years now, during which I have sometimes heard the question: “Who needs the Imams of Sacred Law when we have the Qur’an and hadith? Why can’t we take our Islam from the word of Allah and His Messenger (Allah bless him and give him peace), which are divinely protected from error, instead of taking it from the madhhabs or “schools of jurisprudence” of the mujtahid Imams such as Abu Hanifa, Malik, Shafi‘i, and Ahmad, which are not?”

It cannot be hidden from any of you how urgent this issue is, or that many of the disagreements we see and hear in our mosques these days are due to lack of knowledge of fiqh or “Islamic jurisprudence” and its relation to Islam as a whole. Now, perhaps more than ever Read the rest “WHY MUSLIMS FOLLOW MADHHAB?”

Asking For Evidences is A Clear Dalil of Your Ignorance

by Ridhwan ibn Muhammad Saleem

In the name of Allah. All praise is for Him, our Lord and Protector, and may peace and mercy be upon His final Prophet.

The following comments are not intended to offend anyone, so please don’t take them offensively. We love all our brothers, who love Allah and His messenger (mercy of Allah and peace be upon him), and are working sincerely for this deen, no matter which orientation they take. If the following words are seen to be a little harsh on some, it was in view of the serious nature of the times we live in that we felt it was time to get to the point.

The following brief comment arose as a result of my being asked the legal ruling on a certain issue. The questioner also wanted to know the “evidences” for the ruling. I realized that they intended to compare the “evidences” from different people they asked and come to their own conclusion as to which opinion was “strongest”.

I felt that presenting the “evidence” from the Hanafi legal school on this issue to such a layperson was inappropriate. I will try and explain why. I mentioned the ruling

Read the rest “Asking For Evidences is A Clear Dalil of Your Ignorance”

Amalan 1 Syawal: Membetulkan kekeliruan

Beberapa ikhwan telah menghubungi Al-Faqir meminta pandangan terhadap artikel tulisan seorang penulis dalam akhbar Harian Metro, edisi hari Jumaat, 17 Ogos 2012 dalam ruangan Minda dengan tajuk “Menyambut 1 Syawal: Elak tindakan tak ikut syariat”. Al-Faqir tidak terus menyatakan pendirian kerana belum membacanya dan sama sekali tidak berminat untuk menulis komen terhadap tulisan orang lain. Namun, setelah membaca keseluruhan tulisan tersebut, Al-Faqir merasa suatu kewajipan untuk menulis sebagai suatu pencerahan kerana artikel tersebut benar-benar mengelirukan ummat. Barang kali tulisan secara cepat dan ringkas ini hanyalah jawapan permulaan kerana beberapa sahabat Al-Faqir akan menjawabnya juga dalam penulisan mereka akan datang. Mohon kepada para Alim Ulama’ untuk membetulkan mana-mana kesilapan jika terdapat di dalam tulisan mutawadhi’ ini. Nafa’anallahu bikum wa bi’ulumikum fid darain, Amin…. Klik <DI SINI> untuk rencana penuh.

tld whoisмаленький купитьотдых на

Sidebar