A Hadith on Fasting In Rejab

Imam al-Nawawi said:

“Neither prohibition nor praiseworthiness has been established for the month of Rajab in itself, HOWEVER,

(1) the principle concerning fasting is that it is praiseworthy in itself, and

(2) in the Sunan of Abu Dawud the Prophet  has made the fasting of the sacred months praiseworthy, and Rajab is one of them.”

A Hadith On Fasting in Rajab

  1. `Uthman ibn Hakim al-Ansari said: “I asked Sa`eed ibn Jubayr about fasting in Rajab, and we were then passing through the month of Rajab, whereupon he said: “I heard Ibn `Abbas saying: “The Messenger of Allah  used to observe fast so continuously that we thought he would not break it, and did not observe it so continuously that we thought he would not observe fast.” Muslim and Abu Dawud relate it in Kitab al-sawm, respectively in the chapter on fasting at times other than Ramadan, and in the chapter of fasting during Rajab.

Imam Nawawi says: “It would appear that the meaning inferred by Sa`eed ibn Jubayr from Ibn `Abbas’s report is that fasting in Rajab is is neither forbidden nor considered praiseworthy in itself, rather, the ruling concerning it is the same as the rest of the months. Neither prohibition not praiseworthiness has been established for the month of Rajab in itself, however, the principle concerning fasting is that it is praiseworthy in itself, and in the Sunan of Abu Dawud(*) the Prophet  has made the fasting of the sacred months praiseworthy, and Rajab is one of them. And Allah knows best.” Sharh Sahih Muslim Kitab 13 Bab 34 #179.

(*) Kitab al-siyam, Chapter: “Fasting During the Sacred Months”. Also in Ibn Majah and Ahmad, hadith of the man who repeats: “I can bear more,” and to whom the Prophet  finally says: “Fast during the sacred months.”

It is established that Ibn `Umar fasted during the sacred months: Musannaf `Abd al-Razzaq 4:293, Musannaf Ibn Abi Shayba 1:125.

  1. Abdullah, the freed slave of Asma’ the daughter of Abu Bakr, the maternal uncle of the son of `Ata’, reported: “Asma’ sent me to Abdullah ibn `Umar saying: “The news has reached me that you prohibit the use of three things: the striped robe, saddle cloth made of red silk, and fasting the whole month of Rajab.” Abdullah said to me: “So far as what you say about fasting in the month of Rajab, how about one who observes continuous fasting? And so far as what you say about the striped garment, I heard `Umar ibn al-Khattab say that he had heard from Allah’s Messenger : “He who wears a silk garment, has no share for him (in the Hereafter).” And I am afraid that stripes were part of it. And so far as the red saddle cloth is concerned, here is Abdullah’s saddle cloth [=his] and it is red. I went back to Asma’ and informed her, so she said: “Here is the cloak (jubba) of Allah’s Messenger ,” and she brought out to me that cloak made of Persian cloth with a hem of (silk) brocade, and its sleeves bordered with (silk) brocade, and said: “This was Allah’s Messenger’s  cloak with `A’isha until she died, then I got possession of it. The Apostle of Allah  used to wear that, and we washed it for the sick so that they could seek cure thereby.”” Muslim relates in the first chapter of Kitab al-libas.

Nawawi says: “Ibn `Umar’s reply concerning fasting in Rajab is a denial on his part of what Asma’ had heard with regard to his forbidding it, and it is an affirmation that he fasted Rajab in its entirety as well as fasting permanently, i.e. except the days of `Id and tashreeq. This is his madhhab and the madhhab of his father `Umar ibn al-Khattab, `A’isha, Abu Talha, and others of the Salaf as well as Shafi`i and other scholars. Their position is that perpetual fasting is not disliked (makruh).”

[Another opinion is reported from Ibn `Umar through a hadith from Ahmad reported in “al-Mughni” 3:167 whereby he disliked that people fast the whole of Rajab but said: “Fast some of it and break fast in some of it.”]

* * * * *

Nawawi adds: “In this hadith is a proof that it is recommended to seek blessings through the relics of the righteous and their clothes (wa fi hadha al-hadith dalil `ala istihbab al-tabarruk bi aathaar al-salihin wa thiyabihim).” Sharh sahih Muslim Kitab 37 Bab 2 #10.

  1. Bayhaqi relates in Shu`ab al-iman (#3802):

Abu Abdallah al-Hafiz and Abu Muhammad ibn Abi Hamid al-Muqri said: from Abu al-`Abbas al-Asamm, from Ibrahim ibn Sulayman al-Barlisi, from Abdallah ibn Yusuf, from `Amer ibn Shibl, who said: “I heard Abu Qilaba say:

“There is a palace in Paradise for those who fast the month of Rajab.”

Bayhaqi adds: “Even if it is mawquf at Abu Qilaba (i.e. not traced back to the Prophet) who is one of the Successors, such as he does not say such a saying except if it were related to him by someone who had heard it from him to whom revelation comes (i.e. the Prophet ), and success is from Allah.”

Blessings and Peace on the Prophet, his Family, and his Companions.

Sheikh Gibril Haddad

For further reading:




Puasa Bulan Rejab Bid’aah?

Setiap kali tiba bulan Rejab, timbul isu yang sama puasa bulan Rejab itu Bid’ah. Tiba bulan Syaaban, menghidupkan malam Nisfu Syaaban Bid’ah, mari bulan Ramadan isu 8 atau 20 rakaat yang sunnah.

Di bawah ini saya copy paste dari blog Kiyai Idrus Ramli, takut-takut linknya tidak dapat diakses:

Sumber: Blog Kiyai Muhammad Idrus Ramli

Bulan ini kita telah memasuki dalam bulan Rajab. Tidak sedikit kaum Muslimin di Indonesia, yang mentradisikan puasa Sunnah ketika memasuki bulan-bulan mulia seperti bulan Rajab. Persoalannya, setelah merebaknya aliran Salafi-Wahabi di Indonesia, beragam tradisi ibadah dan keagamaan yang telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara, seperti puasa Sunnah di bulan Rajab selalu dipersoalkan oleh mereka dengan alasan bid’ah, haditsnya palsu dan alasan-alasan lainnya. Seakan-akan mereka ingin menghalangi umat Islam dari mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah puasa. Oleh karena itu tulisan ini, berupaya menjernihkan hukum puasa Rajab berdasarkan pandangan para ulama yang otoritatif.

Hukum Puasa Rajab

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa Rajab.

Pertama, mayoritas ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah selama 30 hari. Pendapat ini juga menjadi qaul dalam madzhab Hanbali.

Kedua, para ulama madzhab Hanbali berpendapat bahwa berpuasa Rajab secara penuh (30 hari) hukumnya makruh apabila tidak disertai dengan puasa pada bulan-bulan yang lainnya. Kemakruhan ini akan menjadi hilang apabila tidak berpuasa dalam satu atau dua hari dalam bulan Rajab tersebut, atau dengan berpuasa pada bulan yang lain. Para ulama madzhab Hanbali juga berbeda pendapat tentang menentukan bulan-bulan haram dengan puasa. Mayoritas mereka menghukumi sunnah, sementara sebagian lainnya tidak menjelaskan kesunnahannya.

Berikut pernyataan para ulama madzhab empat tentang puasa Rajab.

Madzhab Hanafi

Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (1/202) disebutkan:

في الفتاوي الهندية 1/202 : ( المرغوبات من الصيام أنواع ) أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ) اه

“Macam-macam puasa yang disunnahkan adalah banyak macamnya. Pertama, puasa bulan Muharram, kedua puasa bulan Rajab, ketiga, puasa bulan Sya’ban dan hari Asyura.”

Madzhab Maliki

Dalam kitab Syarh al-Kharsyi ‘ala Mukhtashar Khalil (2/241), ketika menjelaskan puasa yang disunnahkan, al-Kharsyi berkata:

(والمحرم ورجب وشعبان ) يعني : أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ) اه وفي الحاشية عليه : ( قوله : ورجب ) , بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ) اه

“Muharram, Rajab dan Sya’ban. Yakni, disunnahkan berpuasa pada bulan Muharram – bulan haram pertama -, dan Rajab – bulan haram yang menyendiri.” Dalam catatan pinggirnya: “Maksud perkataan pengaram, bulan Rajab, bahkan disunnahkan berpuasa pada semua bulan-bulan haram yang empat, yang paling utama bulan Muharram, lalu Rajab, lalu Dzul Qa’dah, lalu Dzul Hijjah.”

Pernyataan serupa bisa dilihat pula dalam kitab al-Fawakih al-Dawani (2/272), Kifayah al-Thalib al-Rabbani(2/407), Syarh al-Dardir ‘ala Khalil (1/513) dan al-Taj wa al-Iklil (3/220).

Madzhab Syafi’i

Imam al-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439),

قال الإمام النووي في المجموع 6/439 : ( قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ) اه

“Teman-teman kami (para ulama madzhab Syafi’i) berkata: “Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, dan yang paling utama adalah Muharram. Al-Ruyani berkata dalam al-Bahr: “Yang paling utama adalah bulan Rajab”. Pendapat al-Ruyani ini keliru, karena hadits Abu Hurairah yang akan kami sebutkan berikut ini insya Allah (“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.”)”.

Pernyataan serupa dapat dilihat pula dalam Asna al-Mathalib (1/433), Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53),  Mughni al-Muhtaj (2/187), Nihayah al-Muhtaj (3/211) dan lain-lain.

Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata dalam kitab al-Mughni (3/53):

قال ابن قدامة في المغني 3/53 :( فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ) اه

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah puasa. Ahmad bin Hanbal berkata: “Apabila seseorang berpuasa Rajab, maka berbukalah dalam satu hari atau beberapa hari, sekiranya tidak berpuasa penuh satu bulan.” Ahmad bin Hanbal juga berkata: “Orang yang berpuasa satu tahun penuh, maka berpuasalah pula di bulan Rajab. Kalau tidak berpuasa penuh, maka janganlah berpuasa Rajab terus menerus, ia berbuka di dalamnya dan jangan menyerupakannya dengan bulan Ramadhan.”

Ibnu Muflih berkata dalam kitab al-Furu’ (3/118):

وفي الفروع لابن مفلح 3/118 : ( فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما … وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة , قال صاحب المحرر : وإن لم يله .

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa. Hanbal mengutip: “Makruh, dan meriwayatkan dari Umar, Ibnu Umar dan Abu Bakrah.” Ahmad berkata: “Memuku seseorang karena berpuasa Rajab”. Ibnu Abbas berkata: “Sunnah berpuasa Rajab, kecuali satu hari atau beberapa hari yang tidak berpuasa.” Kemakruhan puasa Rajab bisa hilang dengan berbuka (satu hari atau beberapa hari), atau dengan berpuasa pada bulan yang lain dalam tahun yang sama. Pengarang al-Muharrar berkata: “Meskipun bulan tersebut tidak bergandengan.”

DALIL PUASA RAJAB

Dalil Majoritas Ulama

Mayoritas ulama yang berpandangan bahwa puasa Rajab hukumnya sunnah sebulan penuh, berdalil dengan beberapa banyak hadits dan atsar. Dalil-dalil tersebut dapat diklasifikasi menjadi tiga:

Pertama, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan puasa sunnah secara mutlak. Dalam konteks ini, al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53) dan fatwa beliau mengutip dari fatwa al-Imam Izzuddin bin Abdussalam (hal. 119):

قال ابن حجر كما في الفتاوى الفقهية الكبرى 2/53 :( ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام فإنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه:نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى لما جاء في الأحاديث الصحيحة من الترغيب في الصوم مثل : قوله صلى الله عليه وسلم { يقول الله كل عمل ابن آدم له إلا الصوم } وقوله صلى الله عليه وسلم { لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك } وقوله { إن أفضل الصيام صيام أخي داود كان يصوم يوما ويفطر يوما } وكان داود يصوم من غير تقييد بما عدا رجبا من الشهور ) اه

“Ibnu Hajar, (dan sebelumnya Imam Izzuddin bin Abdissalam ditanya pula), tentang riwayat dari sebagian ahli hadits yang melarang puasa Rajab dan mengagungkan kemuliaannya, dan apakah berpuasa satu bulan penuh di bulan Rajab sah? Beliau berkata dalam jawabannya: “Nadzar puasa Rajab hukumnya sah dan wajib, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukannya. Orang yang melarang puasa Rajab adalah orang bodoh dengan pengambilan hukum-hukum syara’. Bagaimana mungkin puasa Rajab dilarang, sedangkan para ulama yang membukukan syariat, tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan masuknya bulan Rajab dalam bulan yang makruh dipuasai. Bahkan berpuasa Rajab termasuk qurbah (ibadah sunnah yang dapat mendekatkan) kepada Allah, karena apa yang datang dalam hadits-hadits shahih yang menganjurkan berpuasa seperti sabda Nabi SAW: “Allah berfirman, semua amal ibadah anak Adam akan kembali kepadanya kecuali puasa”, dan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah dari pada minyak kasturi”, dan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasa saudaraku Dawud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Nabi Dawud AS berpuasa tanpa dibatasi oleh bulan misalnya selain bula Rajab.”

Al-Syaukani berkata dalam Nail al-Authar (4/291):

وقال الشوكاني في نيل الأوطار 4/291 : ( وقد ورد ما يدل على مشروعية صومه على العموم والخصوص : أما العموم : فالأحاديث الواردة في الترغيب في صوم الأشهر الحرم وهو منها بالإجماع . وكذلك الأحاديث الواردة في مشروعية مطلق الصوم … ) اه

“Telah datang dalil yang menunjukkan pada disyariatkannya puasa Rajab, secara umum dan khusus. Adapun hadits yang bersifat umum, adalah hadits-hadits yang datang menganjurkan puasa pada bulan-bulan haram. Sedangkan Rajab termasuk bulan haram berdasarkan ijma’ ulama. Demikian pula hadits-hadits yang datang tentang disyariatkannya puasa sunnat secara mutlak.”

 

Kedua, hadits-hadits yang menganjurkan puasa bulan-bulan haram, antara lain hadits Mujibah al-Bahiliyah. Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam al-Sunan (2/322) sebagai berikut ini:

عن مجيبة الباهلية عن أبيها أو عمها أنه : أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم انطلق فأتاه بعد سنة وقد تغيرت حالته وهيئته فقال يا رسول الله أما تعرفني قال ومن أنت قال أنا الباهلي الذي جئتك عام الأول قال فما غيرك وقد كنت حسن الهيئة قال ما أكلت طعاما إلا بليل منذ فارقتك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لم عذبت نفسك ثم قال صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن بي قوة قال صم يومين قال زدني قال صم ثلاثة أيام قال زدني قال صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصابعه الثلاثة فضمها ثم أرسلها )

Dari Mujibah al-Bahiliyah, dari ayah atau pamannya, bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW kemudian pergi. Lalu datang lagi pada tahun berikutnya, sedangkan kondisi fisiknya telah berubah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengenalku?” Beliau bertanya: “Kamu siapa?” Ia menjawab: “Aku dari suku Bahili, yang datang tahun sebelumnya.” Nabi SAW bertanya: “Kondisi fisik mu kok berubah, dulu fisikmu bagus sekali?” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali malam hari sejak meninggalkanmu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa kamu menyiksa diri?” Lalu berliau bersabda: “Berpuasalah di bulan Ramadhan dan satu hari dalam setiap bulan.” Ia menjawab: “Tambahlah kepadaku, karena aku masih mampu.” Beliau menjawab: “Berpuasalah dua hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah, aku masih kuat.” Nabi SAW menjawab: “Berpuasalah tiga hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah.” Nabi SAW menjawab: “Berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Mengomentari hadits tersebut, Imam al-Nawawi berkata dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439): “Nabi SAW menyuruh laki-laki tersebut berpuasa sebagian dalam bulan-bulan haram tersebut dan meninggalkan puasa di sebagian yang lain, karena berpuasa bagi laki-laki Bahili tersebut memberatkan fisiknya. Adapuan bagi orang yang tidak memberatkan, maka berpuasa satu bulan penuh di bulan-bulan haram adalah keutamaan.” Komentar yang sama juga dikemukakan oleh Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari dalam Asna al-Mathalib (1/433) dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa-nya (2/53).

Ketiga, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab secara khusus. Hadits-hadits tersebut meskipun derajatnya dha’if, akan tetapi masih diamalkan dalam bab fadhail al-a’mal, seperti ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa-nya (2/53).

Di antara hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Rajab secara khusus adalah hadits Usamah bin Zaid berikut ini:

في سنن النسائي 4/201 : ( عن أسامة بن زيد قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ) اه

Dalam Sunan al-Nasa’i (4/201): Dari Usamah bin Zaid, berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa dalam bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban itu bulan yang dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan.”

Mengomentari hadits tersebut, Imam al-Syaukani berkata dalam kitabnya Nail al-Authar (4/291): “Hadits Usamah di atas, jelasnya menunjukkan disunnahkannya puasa Rajab. Karena yang tampak dari hadits tersebut, kaum Muslimin pada masa Nabi SAW melalaikan untuk mengagungkan bulan Sya’ban dengan berpuasa, sebagaimana mereka mengagungkan Ramadhan dan Rajab dengan berpuasa.”

Keempat, atsar dari ulama salaf yang saleh. Terdapat beberapa riwayat yang menyatakan bahwa beberapa ulama salaf yang saleh menunaikan ibadah puasa Rajab, seperti Hasan al-Bashri, Abdullah bin Umar dan lain-lain. Hal ini bisa dilihat dalam kitab-kitab hadits seperti Mushannaf Ibn Abi Syaibah dan lain-lain.

Dalil Madzhab Hanbali

Sebagaimana dimaklumi, madzhab Hanbali berpendapat bahwa mengkhususkan puasa Rajab secara penuh dengan ibadah puasa adalah makruh. Akan tetapi kemakruhan puasa Rajab ini bisa hilang dengan dua cara, pertama, meninggalkan sehari atau lebih dalam bulan Rajab tanpa puasa. Dan kedua, berpuasa di bulan-bulan di luar Rajab, walaupun bulan tersebut tidak berdampingan dengan bulan Rajab.

Para ulama yang bermadzhab Hanbali, memakruhkan berpuasa Rajab secara penuh dan secara khusus, didasarkan pada beberapa hadits, antara lain:

Hadits dari Zaid bin Aslam, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Rajab, lalu beliau menjawab: “Di mana kalian dari bulan Sya’ban?” (HR. Ibnu Abi Syaibah [2/513] dan Abdurrazzaq [4/292]. Tetapi hadits ini mursal, alias dha’if).

Hadits Usamah bin Zaid. Ia selalu berpuasa di bulan-bulan haram. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Berpuasalah di bulan Syawal.” Lalu Usamah meninggalkan puasa di bulan-bulan haram, dan hanya berpuasa di bulan Syawal sampai meninggal dunia.” (HR. Ibn Majah [1/555], tetapi hadits ini dha’if. Hadits ini juga dinilai dha’if oleh Syaikh al-Albani.).

Hadits dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW melarang puasa Rajab. (HR. Ibn Majah [1/554], tetapi hadits ini dinilai dha’if oleh Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa al-Kubra [2/479], dan lain-lain).

Madzhab Hanbali juga berdalil dengan beberapa atsar dari sebagian sahabat, seperti atsar bahwa Umar pernah memukul orang karena berpuasa Rajab, atsar dari Anas bin Malik dan lain-lain. Tetapi atsar ini masih ditentang dengan atsar-atsar lain dari para sahabat yang justru melakukan puasa Rajab. Disamping itu, dalil-dalil para ulama yang menganjurkan puasa Rajab jauh lebih kuat dan lebih shahih sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.

Demikian catatan sederhana tentang hukum puasa Rajab. Wallahul muwaffiq.

Muhammad Idrus Ramli

Sumber: http://www.idrusramli.com/2014/puasa-rajab-tidak-bidah-tetapi-sunnah/




Ilmu Tasawuf itu Roh Islam

Dalam satu hadith yang agak panjang yang diriwayatkan daripada Sayyidina Umar ibn al-Khattab RA menceritakan bagaimana pada suatu hari ketika Baginda SAW sedang duduk bersama para Sahabat RAnhum, tiba-tiba datang seorang lelaki yang memakai baju serba putih, bersih dan tiada tanda kesan-kesan debu kerana musafir, masuk dan duduk mengadap Baginda SAW. Lelaki itu bertanyakan Baginda SAW berhubung dengan Islam, Iman, Ihsan, dan kiamat. Hadith ini amat terkenal dan dirakamkan dalam banyak kitab-kitab hadith termasuk Imam Nawawi RA menyebutnya dalam kitabnya yang terkenal “Hadith 40” Imam Nawawi.

Hadith ini menjelaskan kepada kita bahawa Islam itu mempunyai tiga komponen utama iaitu Islam, Iman dan Ihsan. Islam merupakan apa yang kita panggil rukun Islam hari ini yang mengandungi lima perkara, manakala Islam itu pula apa yang dipanggil rukun Iman yang mempunyai enam perkara manakala Ihsan pula ialah prinsip “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya, yakinlah Allah melihatmu”. Aspek Islam seringkali merujuk kepada perlakuan ibadat khususiah seperti solat, puasa, zakat, haji selain daripada mengucap dua kalimah Syahadah, manakala Iman pula merujuk kepada pegangan atau aqidah seseorang meliputi beriman kepada Allah, Hari Akhirat, para Rasul, para Malaikat Kitab-kitab dan Qada’ dan Qadar. Namun tidak ramai yang memahami bahawa satu lagi kompenen Islam iaitu Ihsan yang meliputi aspek batin atau akhlak dengan Allah SWT dan sekalian makhluknya juga perlu ditititberatkan.

Sejak sekian lama, para ulama seperti Imam al-Ghazali RA melihat bahawa disiplin ilmu yang mendalami ketiga-tiga aspek Islam ini iaitu Islam, Imam dan Ihsan perlu diajar kepada setiap muslim dan menjadi fardu ain kepada semua mukallaf untuk memahami dan mengamalkannya. Hari ini disiplin ilmu–ilmu itu dikenali sebagai fekah, akidah dan tasawuf.

Apa yang mendukacitakan kita sementara ilmu fekah dan akidah rancak diajar, namun ilmu tasawuf seolah dipandang serong oleh segelintir masyarakat seolah ianya bukan daripada ajaran Islam, bukan daripada tradisi keilmuan Islam. Ada yang menuduh kononnya sebagai ilmu saduran agama asing sehingga sanggup mentohmah tasawuf sejijik “air longkang”.

Kalau diteliti, sejarawan seperti seperti Ibn Khaldun (w.1406) misalnya menyebut dalam kitabnya Mukaddimah bahawa tasawuf merupakan salah satu cabang daripada tradisi ilmu Islam manakala dalam Shifa’ al-sail beliau membahaskan panjang lebar berhubung dengan kedudukan ilmu tasawuf. Begitu juga ulama-ulama dan sejarahwan lain, rata-rata bersetuju bahawa ilmu tasawuf merupakan salah satu daripada cabang ilmu yang amat penting dalam pengajian Islam. Hari ini ada suara-suara yang alergik dengan nama ilmu “tasawuf”, sebaliknya lebih selesa menggunakan nama “ilmu akhlak”, “tazkiyatul nafs” atau seumpamanya sedangkan nama tasawuf ini sudah wujud ratusan tahun dulu tanpa ada sebarang penentangan pun. Antara alasannya kerana nama ilmu “tasawuf” itu tidak pernah wujud di zaman Nabi Muhammad SAW. Adakah nama ilmu-ilmu lain seperti ilmu “aqidah”, “tajwid” “mustalahah hadith” dan lain-lain wujud dalam bentuk disiplin ilmu tersusun seperti hari ini? Sudah pasti juga tidak. Oleh itu wujudnya nama-nama disiplin ilmu tertentu yang tiada di zaman Nabi SAW tidak menjadi alasan untuk menolaknya jika prinsip-prinsipnya ada dalam agama.

Di mana pentingnya ilmu tasawuf?

Pentingnya ilmu tasawuf ini ialah kerana ilmu tasawuf inilah ilmu yang mendidik kita untuk khusyuk dalam solat, ikhlas dalam ibadah, dan bersih daripada sifat-sifat keji (mazmumah) dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah) sehingga kita mampu beribadah kepada Allah SWT “seolah-olah kita melihatNya, dan jika kita tidak melihatNya kita yakin Allah SWT melihat kita”. Para imam Mazhab Empat begitu menekankan agar aspek-aspek batin ini diberi penekanan sepertimana pentingnya juga amalan zahir sehingga Imam Malik RA diriwayatkan menyebut “sesiapa yang bertasawuf tetapi mengabaikan fekah, maka dia akan menjadi zindiq, manakala sesiapa memberatkan fekah mengabaikan tasawuf maka dia akan menjadi fasiq, sesiapa yang menggabungkan kedua-duanya maka dialah yang sebenarnya”

Tasawuf merupakan disiplin ilmu yang amat penting lebih-lebih lagi di zaman manusia rakus dengan dunia dan gilakan kemewahan kebendaan. Tanpa mendalami ilmu tasawuf, kita akan menjadi manusia berjasad tanpa roh. Kerosakan akhlak menjadi semakin berleluasa dan rasuah bermaharajalela kerana manusia tidak merasakan bahawa Allah SWT sedang memerhatinya.

>> artikel ini pernah diterbitkan dalam Berita Harian 11 April 2015